Selasa, 22 April 2008

Pornografi dan Teknologi

Saya membaca sebuah buku : 500+ Gelombang Video Porno Indonesia. Isinya mengenai bagaimana kreatifitas dan teknologi menjadikan banyak orang Indonesia, khususnya anak-anak muda, mendadak menjadi bintang. Wajahnya (dan body polosnya) tampil di berbagai situs, mengalir dari satu layar ponsel ke ponsel lainnya. Tapi, sungguh, bukan hanya anak-anak muda saja. Bintang-bintang porno amatir made in Indonesia ini bisa dikatakan tersebar dalam berbagai tingkat usia. Dari anak-anak SMP (gila, SMP!) sampai bapak-bapak pejabat. Tentu Anda masih ingat kasus seorang anggota DPR yang rekaman aksinyanya menghiasi ribuan layar ponsel. Serunya, menurut data dalam buku itu, kini diperkirakan tiap hari setidaknya ada dua mini video porno baru yang diluncurkan ke ‘pasaran’.

Sebagian besar pembuatnya berniat, bahwa film-film dewasa yang diambil dengan teknik asal ini --dengan sutradara, kameramen, aktor-aktris adalah dirinya sendiri-- hanya untuk koleksi pribadi. Tapi, di jaman ini, ketika data sudah bisa diringkus menjadi bit-bit digital, siapa yang bisa menjamin sesuatu yang diniatkan untuk konsumsi personal tetap terjaga privasinya?

Sebagian besar mini video porno itu direkam menggunakan ponsel. Yups, ponsel yang canggih selain dapat memutar video juga dapat merekam adegan. Sebagian memang kualitasnya baru asal rekam. Tetapi beberapa ponsel sudah memiliki kualitas hampir setara camcorder.

Itu artinya, jika ponsel semakin canggih, dan kreatifitas aktor-aktris amatir ini semakin liar, akan semakin banyak juga kita disuguhkan tontotan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan bahwa hal itu dapat diproduksi di Indonesia. Dengan bintang-bintang asli Indonesia! Bahkan, dari judul-judulnya terasa dekat dengan kita. Mau butki : Bandung Lautan Asmara, Jogja Membara, ABG Pontianak, Aksi Cewek Sragen dan sejenisnya.

Tapi memang kemajuan teknologi mendorong kebebasan dan membuka sekat. Tentu saja, seks sebagai sebuah wilayah penuh sekat, kini mendapat peluang untuk eksis, untuk tampil, dan ramai-ramai dinikmati. Tidak heran jika di berbagai penjual Memory Card ponsel, misalnya, kita bisa ditawari kartu memori yang sudah terisi. Sebagian adalah file berekstensi *3gp berisi koleksi video porno made in Indonesia tadi.

Industri pornografi sendiri diyakini sebagai pendorong kemajuan teknologi. Penentu kemenangan standar pita video antara VHS terhadap Betamax adalah industri pornografi! Pendorong digunakannnya DVD adalah pornografi. Sukses layanan 3G di beberapa negara juga ditentukan oleh industri pornografi! Di Indonesia, pasti operator dan pengambang konten belum berani terang-terangan menjual paha dan dada. Artinya, industri milyaran dolar ini bergerak dan tumbuh sejalan dengan kemajuan teknologi.

Membaca buku ini, saya jadi membayangkan, jika sekarang video porno made Indonesia itu masih dibuat secara amatiran, mungkin sebentar lagi akan hadir produser film-film porno professional asli Indonesia, dengan bintang orang Indonesia, setting di kamar-kamar hotel Indonesia, dan desahannya berbahasa Indonesia. Sekarang saja sudah ada cewek Indonesia yang kreatif. Dia berani tampil polos melalui webcam dengan bayaran pulsa. Tarifnya Rp 25 ribu, sekali aksi!

Menurut data situs pencari google, pengguna intrenet dari Indonesia menempati posisi ketujuh terbesar di dunia yang sering melakukan pencarian dengan kata-kata seks dan variannya. Data kasar juga menunjukan 80% pengguna warnet sering mengakses situs-situs porno padahal sebagian besar penggunanya adalah anak-anak usia sekolah. Sebuah pasar yang menggiurkan, bukan? Dan sampai saat ini tidak ada langkah konkrit dari pemerintah untuk membendung serangan virus pornografi hasil kawin silang kemudahaan teknologi, kreatifitas, kebebasan, bisnis, plus sepenggal kenorakan!

Tidak ada komentar: